TINTABERITBABEL.COM, Bloomberg — Ekspor timah dari Myanmar, salah satu produsen utama global, diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan mendatang, meredakan kekhawatiran pasokan.
Proyeksi produksi itu belakangan terkerek selepas otoritas setempat mengizinkan kembali aktivitas pertambangan di wilayah yang dilanda konflik, menurut pedagang yang mengetahui langsung situasi tersebut.
Regulator pertambangan di Negara Bagian Wa—wilayah otonom di Myanmar yang dikuasai oleh kelompok bersenjata etnis—telah memperbarui izin operasi untuk sejumlah perusahaan tertentu, untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sekitar 2 tahun, kata para pedagang yang meminta identitasnya dirahasiakan karena sensitivitas isu ini.
Dengan dimulainya kembali aktivitas tambang secara bertahap, volume bijih timah yang dikirim ke China diperkirakan akan meningkat.
Negara Bagian Wa menghentikan kegiatan pertambangan timah pada 2023 demi konservasi cadangan, dan kemudian menaikkan bea ekspor atas bijih berkadar tinggi pada tahun lalu.
Merosotnya pasokan timah dari Myanmar. (Bloomberg)
Langkah tersebut secara signifikan menurunkan pasokan timah ke China, mengingat tambang-tambang yang dikelola oleh United Wa State Army sebelumnya menyumbang sekitar sepertiga dari pasokan timah ke negara tersebut sebelum larangan diberlakukan.
Harga timah sempat melonjak 30% dalam tiga bulan hingga awal April, didorong gangguan pasokan dari Myanmar dan Republik Demokratik Kongo—dua produsen utama dunia.
Namun harga mulai terkoreksi seiring pulihnya produksi di Kongo dan terjadinya aksi jual di pasar logam serta pasar keuangan secara lebih luas akibat kebijakan tarif.
Kelangkaan bijih global juga menekan tarif pemrosesan (treatment charges) bagi smelter di China, menurut seorang eksekutif Yunnan Tin Co., produsen timah terbesar di negara tersebut.
Dalam wawancara pada Mei lalu, dia mengatakan produksi di Kongo dan Myanmar diperkirakan akan kembali normal pada akhir tahun ini.
(bbn/tb/tintaberitababel.com/La Ode M Murdani)





